BECOMING A WORSHIPPER (MENJADI SEORANG PENYEMBAH)
Dari zaman dulu, manusia selalu mencari “sesuatu”
yang lebih daripada dirinya untuk disembah, contoh: gunung, pohon besar,
binatang, benda-benda yang dianggap keramat, dan manusia tidak akan pernah
merasa puas dan berhenti mencari sampai menemukan dan bisa menyembah sang
penciptanya untuk diagungkan, disembah, dan dimuliakan. Mengapa? Karena Manusia memang diciptakan sebagai
makhluk penyembah (punya naluri menyembah).
Sebagai Manusia modern (hidup di masa sekarang),
kadang kita berpikir, dengan berbuat baik kita sudah menyenangkan pencipta
kita, atau dengan melakukan ritual-ritual agama yang kita yakini, tapi mungkin
setelah kita lakukan semua yang kita anggap “baik”, kita belum juga puas dan
belum merasa “berjumpa” dengan pencipta yang ingin kita sembah. Mengapa? “Tetapi
saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar
akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki
penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia,
harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:23-24).
Menyembah
Allah yang benar
Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia,
Allah yang benar adalah Allah yang kita kenal melalui pribadi Yesus. Setelah kita
dibenarkan dan kenal Allah yang benar, maka kita menyembah, menghadap Allah
untuk meninggikan Dia, dengan merendahkan diri kita dan dengan membawa atau
memberikan persembahan (disebut juga “korban”) bukan sekedar upacara, bukan
sekedar ikut-ikutan, bukan sekedar mengucap kata-kata hafalan, tapi dengan
kesadaran, kemauan dan keinginan hati nurani menyembah di dalam roh dan
kebenaran-Nya. Menyembah pencipta kita di dalam pribadi Yesus inilah yang
menjadikan hidup kita bermakna.
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah
aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan
yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang
sejati.” (Roma 12:1).
Mari kita memiliki hidup yang menyembah dengan:
1. Menyadari
bahwa tujuan kehidupan manusia adalah untuk menyembah Tuhan
2. Menjadikan
seluruh aspek kehidupan kita sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.
Mari kita menjadikan diri kita sebagai seorang
penyembah Tuhan melalui hidup yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa,
akal budi dan kekuatan di dalam kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja,
sekolah, keluarga maupun di tengah masyarakat.
sumber: warta jemaat fajar pengharapan