Sabtu, 03 November 2012


BECOMING A WORSHIPPER (MENJADI SEORANG PENYEMBAH)

Dari zaman dulu, manusia selalu mencari “sesuatu” yang lebih daripada dirinya untuk disembah, contoh: gunung, pohon besar, binatang, benda-benda yang dianggap keramat, dan manusia tidak akan pernah merasa puas dan berhenti mencari sampai menemukan dan bisa menyembah sang penciptanya untuk diagungkan, disembah, dan dimuliakan. Mengapa?  Karena Manusia memang diciptakan sebagai makhluk penyembah (punya naluri menyembah).
Sebagai Manusia modern (hidup di masa sekarang), kadang kita berpikir, dengan berbuat baik kita sudah menyenangkan pencipta kita, atau dengan melakukan ritual-ritual agama yang kita yakini, tapi mungkin setelah kita lakukan semua yang kita anggap “baik”, kita belum juga puas dan belum merasa “berjumpa” dengan pencipta yang ingin kita sembah. Mengapa? “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:23-24).

Menyembah Allah yang benar

Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, Allah yang benar adalah Allah yang kita kenal melalui pribadi Yesus. Setelah kita dibenarkan dan kenal Allah yang benar, maka kita menyembah, menghadap Allah untuk meninggikan Dia, dengan merendahkan diri kita dan dengan membawa atau memberikan persembahan (disebut juga “korban”) bukan sekedar upacara, bukan sekedar ikut-ikutan, bukan sekedar mengucap kata-kata hafalan, tapi dengan kesadaran, kemauan dan keinginan hati nurani menyembah di dalam roh dan kebenaran-Nya. Menyembah pencipta kita di dalam pribadi Yesus inilah yang menjadikan hidup kita bermakna.
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

Mari kita memiliki hidup yang menyembah dengan:
1.      Menyadari bahwa tujuan kehidupan manusia adalah untuk menyembah Tuhan
2.      Menjadikan seluruh aspek kehidupan kita sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.
Mari kita menjadikan diri kita sebagai seorang penyembah Tuhan melalui hidup yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan di dalam kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja, sekolah, keluarga maupun di tengah masyarakat.



sumber: warta jemaat fajar pengharapan

Minggu, 22 Juli 2012


God Is Impatient With Us
(Tuhan tidak sabaran terhadap kita)


Bernarkah Tuhan tidak sabaran terhadap kita?
Semua orang menginginkan segala hal bersifat instan: makan makanan yang cepat saji, ingin berhasil secara instan, ingin memperoleh kekayaan secara instan, ingin mendapatkan jodoh secara instan, semuanya ingin serba instan. Ketidak sabaran memang menjadi  sifat alamiah dari manusia.


Pola pemikiran yang serba instan ini pula juga yang membentuk pemikiran bahwa Tuhan pun kini tidak sabaran terhadap kita (God is impatient with us). Penderitaan, permasalahan dan kesengsaraan yang terjadi melanda manusia secara tiba-tiba acapkali dianggap sebagai hukuman dan bukti bahwa Tuhan tidak sabaran terhadap kita. Namun, benarkah Tuhan tidak sabaran terhadap kita?

TuhanYesus: teladan utama dalam hal kesabaran
Rasul Petrus, mendesak orang-orang Kristen untuk mengingat salah satu karakter Tuhan yang luar biasa yaitu kesabaran-Nya. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat… Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk memperoleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. “(2 Petrus 3:9 dan 15).


Menurut kamus, kesabaran adalah kekuatan dalam menjalani masalah dan penderitaan tanpa mengeluh; kemampuan menghadapi masalah dengan tenang. Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal kesabaran. Terhadap orang-orang yang mengejek, meludahi, menganiyaya, bahkan menyalibkan Dia, Yesus tetap sabar dan berdoa. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34a).

Mitos keliru: Tuhan tidak sabaran terhadap kita
Adanya persoalan dalam kehidupan manusia merupakan bukti bahawa Tuhan tidak sabar terhadap manusia, merupakan suatu mitos yang keliru. Tuhan adalah pribadi yang memahami keterbatasan manusia dan tidak membalas dosa-dosa manusia setimpal dengan dosa mereka. 


“Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Mazmur 103:8-12)



Hidup dalam anugrah kesabaran-Nya


1.     Memohon pengampunan Tuhan bila selama ini kita telah menyia-nyiakan kesabaran Tuhan.
Sekalipun kita tidak akan kehilangan keselamatan dan status kita sebagai anak-anak Allah, namun bukan berarti status ini membebaskan kita dari “disiplin ilahi”. Allah memang panjang sabar, tapi Ia sekali-kali tidak akan membiarkan diri-Nya dipermainkan umat-Nya. 


Peringatan Paulus adalah untuk mendorong kita sebagai  orang-orang yang telah ditebus-Nya, agar dapat hidup berpadanan dengan setatus kita dan tidak lagi hidup menuruti keinginan daging. Jika kita telah ditebus-Nya tapi masih bermain-main dengan dosa, maka sikap kita tersebut sama artinya dengan mempermainkan Tuhan, yang telah memanggil kita menjadi umat-Nya.

2.     Mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa-dosa.
Paulus memperingatkan umat Tuhan bahwa ketika melakukan pelanggaran atau dosa, mereka tidak hanya akan berurusan dengan dunia sekitar (seperti peraturan/hukum pemerintahan yang berlaku pada waktu itu); tetapi lebih dari itu, mereka sedang berurusan dengan Tuhan sendiri. 


Mungkin kita dapat mengelak dari tuntunan hukum/peraturan manusia, tetapi hal ini tidak mungkin terjadi di hadapan Allah. Jangan mengira bahwa pelanggaran dan dosa yang kita lakukan dapat kita sembunyikan dari hadapan Allah. Justru sebaliknya, ketika kita berusaha menyembunyikannya, itu berarti kita sedang mempermaikan kesabaran dan kasih Tuhan dan menganggap-Nya tidak mengetahui perbuatan kita. Orang yang bersikap demikian akan menuai apa yang telah di taburnya.

sumber: Renungan GKPB Bandung

Kamis, 19 Juli 2012


God Is Against Us
(Tuhan Memusuhi Kita)


Benarkah Tuhan memusuhi kita?
Penderitaan yang ada seringkali menjadi alasan bahwa Tuhan sedang menghukum dan memusuhi manusia. Benarkah demikian? Seorang penginjil India, Sundar Singh, menulis tentang kebakaran hutan di pegunungan Himalaya yang ia saksikan ketika sedang melakukan perjalanan.

Saat banyak orang berusaha memadamkan api, ada sekelompok orang yang memandangi sebuah pohon yang dahan-dahannya mulai dijalari api. Seekor induk burung dengan panik terbang berputar-putar di atas pohon. Induk burung itu mencicit kebingungan, seakan-akan mencari pertolongan bagi anak-anaknya yang masih di dalam sarang.

Ketika sarang mulai terbakar, induk burung itu tidak terbang menjauh. Sebaliknya, ia justru menukik ke bawah dan melindungi anak-anaknya dengan sayapnya. Dalam sekejap, ia berserta anak-anaknya hangus menjadi abu. Lalu Singh berkata kepada orang-orang itu, “Kita baru saja melihat hal yang luar biasa.

Allah menciptakan burung yang memiliki kasih dan pengabdian begitu besar sehingga rela memberikan nyawanya untuk melindungi anak-anaknya … kasih seperti itulah yang membuat-Nya turun dari surga dan menjadi manusia. Kasih itu juga membuat-nya rela mati sengsara demi kita semua.”


Allah mengasihi Manusia
“Ia (Allah), yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Ayat ini menjadi suatu bukti betapa Allah mengasihi kita. Jika Putera-Nya yang tunggal rela Dia berikan bagi kita, apalagi hal-hal lain yang menjadi kebutuhan kita pasti disediakan-Nya. Pemahaman ini penting bagi kita mengingat kini banyak pelbagai mitos yang keliru tentang Tuhan yang mengakibatkan manusia beranggapan bahwa dirinya lebih bijak dari Tuhan.

Mitos-mitos tersebut salah satunya adalah: Tuhan yang bersikap memusuhi manusia. Penderitaan dan kesulitan hidup yang manusia alami seringkali menjadi alasan utama bahwa Tuhan memusuhi dan sengaja membiarkan manusia dalam penderitaan.

Mitos keliru: Allah memusuhi manusia
Memahami bahwa pandangan adanya persoalan dalam kehidupan mereka merupakan bukti bahwa Tuhan memusuhi diri mereka merupakan suatu mitos yang keliru. Pandangan ini akan membuat manusia lebih mengandalkan kekuatan dirinya sendiri dan memilih bersikap tidak mempercayai Tuhan.

Kita memahami berbagai penyebab dari penderitaan manusia, antara lain: keberdosaan manusia dan kelalaian manusia itu sendiri. Ingatlah bahwa melalui penderitaan yang dialami manusia selalu ada maksud Tuhan bahwa: Tuhan sedang memurnikan iman umat-Nya, mengokohkan iman umat-Nya. Penderitaan hanya salah satu cara bagimana Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya.

Roma 5:8 mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Betapa dalam kasih Allah kepada anak-anak-Nya. Walaupun terkadang kita tidak setia, Dia tetap setia. Kasih inilah yang menjadi dasar pemeliharaan Tuhan bagi umat-Nya. Tidak pernah Ia meninggalkan perbuatan tangan-Nya bagi kita, apalagi memusuhi kita!

Langkah bijak melewati kesukaran

1.     Memohon pengampunan Tuhan bila telah bersikap tidak percaya akan kebaikan Tuhan di tengah kesukaran.

Ketika dasar-dasar kehidupan kita terguncang, seringkali kita kewalahan.
Apapun penyebabnya, peganglah bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
(Roma 8:28).

Percayalah bahwa Dia akan membawa kita melewati goncangan sebesar apapun. Ingatlah bahwa setiap rasa sakit yang kita rasakan, Yesus pun merasakannya. Kita tidak sendiri Yesus, sekalipun Dia Tuhan, Dia juga saudara sulung kita, dan “dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya” (Ibrani 2:17).
Dia secara sukarela mati di kayu salib untuk kita semua, hal itu karena Ia mengasihi kita lebih daripada yang lainnya. Ia merasakan kesedihan dan luka yang kita alami. Mari rendahkan hati kita dan bertobat.

2.     Menyerahkan diri ke dalam pembentukan dan pembelaan Tuhan.

Billy Graham berkata to receive Christ cost nothing, to follow Christ cost something but to serve Christ cost everything. Waktu kita memutuskan untuk mengikuti Kristus, Allah  mulai memproses kita. Yesus berkata: Barangsiapa yang tidak mau memikul salibnya, menyangkal dirinya, dia tidak layak bagi-Ku.

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila Anda jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan sesuatu apa pun.

sumber: Renungan GKPB bandung

Kamis, 05 April 2012

HIKMAH DIBALIK NAIKNYA HARGA MINYAK



Selama ini harga BBM masih ‘terjangkau’ karena disubsidi oleh pemerintah. Artinya bukan karena harganya murah. Penduduk di negri lain sudah terbiasa membayar harga yang mahal untuk pemakaian bahan bakar, karena tidak mendapat subsidi dari anggaran belanja negaranya. Sekarang rakyat Indonesia sudah harus membuka mata bahwa ‘periode subsidi’ akan segera menjadi sejarah. Karena dengan terus memberi subsidi dari anggaran belanja Negara, maka usaha pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di bidang lain terhalang. Padahal Indonesia perlu memperbaiki infrastruktur, meningkatkan mutu pendidikan bahkan perangkat keamanan di tengah semakin maraknya aksi terorisme internasional. Artinya kita sudah harus siap-siap jika harga BBM dan listrik masih akan naik lagi.
Memang semacam buah simalakama bagi pemerintah. Menaikan harga BBM membuat rakyat semakin menderita, tetapi kalalu tidak menaikan harga BBM, pemerintah tidak kuat menanggung biaya subsidi dan akhirnya negara bisa bangkrut.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak rakyat Indonesia untuk menghemat energy. Lampu-lampu jalan mulai diatur, agak sore baru dihidupkan dan lebih cepat dimatikan di pagi hari. Suhu pendingin udara di kantor-kantor pemerintah di kurangi supaya pemakaian listrik berkurang, dengan demikian PLN bisa menghemat pemakaian BBM dalam memproduksi energy listrik. Masih banyak lagi langkah-langkah yang lain yang sedang disosialisasikan. Bahkan walikota Solo mengajurkan agar pegawai negri di Solo menggunakan sepeda setiap hari Jumat. Lucu rasanya, tetapi itu bukan ide yang jelek. Apalagi kalau kita melihat dampak lebih jauh dari gagasan seperti itu. Bisa-bisa kalau sudah ‘keasyikan’ pakai sepeda pada hari jumat, bisa keterusan setiap hari kerja. Siapa takut?
Dengan keadaan seperti ini kita diingatkan dan diajak untuk memikirkan kembali prioritas di dalam hidup kita. Put frist thing frist. Utamakan yang paling kita butuhkan lebih dahulu. Dengan mengikuti himbauan hemat energy, kita telah membantu program pemerintah sekaligus membantu diri kita. Membantu kita dalam persiapan dalam menghadapi masa yang sukar di akhir zaman. Membantu kita mengikuti pola hidup Yesus yang sederhana. Membantu kita untuk menghidupkan roh penyangkalan diri. Membantu kita untuk mengurangi dan akhirnya meninggalkan gaya hidup kota besar yang cenderung menghambat persiapan kita untuk bertemu Yesus. Itulah yang seharusnya menjadi prioritas di dalam hidup kita. Dalam hidup yang akan semakin menyesakan ini, barangkali Tuhan juga menggunakan ini sebagai ‘kesempatan di dalam kesempitan’ supaya kita lebih berserah kepada-Nya. Pikiran positif mengatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah seperti blessings in disguise bagi umat Tuhan dalam persiapan menanti kedatangan-Nya.



Selasa, 31 Januari 2012


Yang Terutama: Kasih

Seberapa pentingkah peranan kasih dalam meraih Berkat Tiga Generasi? Pentingnya kasih ini dapat kita temukan dalam kisah Abraham saat:

Menolong Lot dari tawanan Raja Kedorlamoer

Saat Lot berpisah dari Abraham dan ke Sodom, raja Kedorlaomer berperang dan mengalahkan raja Sodom. Lot yang berada di kota Sodom pun keluarganya ditawan. Abraham tahu, Lot kini menjadi tanggung jawab raja Sodom, tetapi raja Sodom gagal bersama 4 raja lainnya. Kalau Abraham ikut campur, ia harus menghadapi Kedorlamoer, padahal Lot bukan lagi bebannya, peduli apa, tidak repot mau cari repot, tidak ada bahaya mau cari bahaya! Tetapi Abraham masih mempunyai kasih ilahi, sebab itu Abraham pergi dengan 318 hambanya, bukan dengan tentara dan karena Tuhan berserta, ia menang, ia membebaskan semua tawanan, termasuk Lot dan keluarganya, sampai raja Sodom pun dating menyembah dan berterimakasih kepada Absraham, katanya: “Ambillah semua harta yang sudah dijarah.” Abraham menolak, sebab yang dituju adalah Lot. Mengapa Abraham mau mengambil risiko yang begitu besar? Sebab ada kasih Allah dalam hatinya.

Menyerahkan Ishak kepada Tuhan

“Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:2). Kisah ini mempunyai makna yang menggambarkan betapa besarnya iman percaya Abraham sebagai bapa orang beriman. Abraham ketika dijanjikan Tuhan akan menjadi bapa segala bangsa dan mempunyai banyak keturunan di muka bumi ini, maka melalui rahim Sara diberikanya keturunan bagi Abraham yaitu Ishak. Isahak menjadi anak yang sangat disayanginya. Abraham yakin bahwa melalui anak inilah keturunannya akan menjadi sangat banyak. Dapat dipahami betapa kagetnya Abraham ketika Tuhan memintanya untuk mempersembahkan Ishak, keturunan satu-satunya, sebagai korban. Perasaan yang campur aduk sseperti takut, gelisah, kuatir, marah, kecewa dan lainnya, pasti memenuhi hati Abraham. Tetapi kita tidak melihat Abraham menunjukkan hal itu. Karakter kasih kepada Allah yang baik telah terbentuk dalam dirinya. Dan itu dibuktikannya melalui sikap dan tindakannya.

Pelajaran penting dari kasih Abraham

Dengan mempelajari sikap Abraham dengan rela: menolong Lot dari tawanan Kedorlaomer dan menyerahkan anaknya Ishak kepada Tuhan, kita memahami pentingnya peranan kasih untuk memahami bahwa kita harus mengasihi Tuhan, kita memahami pentingnya peranan kasih untuk mengalami Berkat Tiga Generasi. Kita memahami bahwa kita harus mengasihi Tuhan lebih dari mengasihi berkat yang kita terima dari-Nya. Karena itu kita memahami bahwa bukti dari kasih kepada Tuhan dan kepada sesama adalah rindu menerima berkat Abraham melalui bisnis dan perkerjaan kita, namun pada saat yang sama kita juga ingin dan merindukan menjadi penyalur berkat Abraham itu kepada dunia dimanan Tuhan menempatkan kita sebagai garam dan terang.

Sabtu, 28 Januari 2012

Sukacita ilahi di tengah pergumulan



Bagaimana perassan Anda jika dilupakan oleh orang-orang yang dekat dengan Anda selama ini? Tentu ada perassan sedih, kecewa dan bahkan sakit hati. Lalu begimana jika bukan saja orang-orang terdekat Anda, namun Tuhan seakan-akan tidak peduli kepada Anda? , mungkin Anda telah berdoa kepada Tuhan, namun belum juga mendapatkan jawaban Tuhan dari doa-doa Anda.

Zakharia dan Elizabet

Zakharia dan Elizabet adalah dua tokoh yang pernah mengalami bagai mana merasakan hidup mereka seakan-akan ditinggalkan oleh Tuhan. Bagi seorang imam, hidup sebagai pelayan Tuhan bertahun-tahun lamanya namun tidak memiliki keturunan tentu menjadi perbincangan negative bagi masyarakat. Tidak mempunyai keturunan bagi seorang Zakharia dan Elizabet memberikan kesan bahwa Tuhan tidak peduli dan tidak memberkati kehidupan mereka. Berdoa untuk mendapatkan keturunan sampai bertahun-tahun hingga sampai di usia senja mereka, tentu telah membuat mereka mengalami beban pergumulan yang berat.
Dalam Alkitab dikishkan Zakharia dan Elizabet mungkin berumur lebih dari 60 tahun saat kisah ini tejadi. Zakharia bukan imam yang sangat penting dalam Bait Allah dan ini adalah pertama kalinya bahawa ia akan melakukan pekerjaan yang sangat penting yaitu memercikan dupa di atas mezbah dan membakarnya. Tiba-tiba Gabriel malaikat Tuhan menampakan diri kepada Zakharia, berdiri di sebelah kanan altar. “…malaikat itu berkata kepadanya: Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah di kabulkan dan Elizabet istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita  dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.” (Lukas 1:13-14). Tuhan bisa melakukan hal yang tidak mungkin, dan itulah yang dilakukan-Nya saat menjanjikan sesuatu kepada Zakharia dan Elizabet. Dia akan menjadi pendahulu Yesus sang  Mesias yang dijanjikan oleh nabi Malekhi (Lukas 1:15-17) (Maleakhi 3:1;4:5-6).

Sukacita yang sejati

Sukacita akan mendapatkan keturunan karena Tuhan menjawab doa Zakharia dan Elizabeth inilah yang menjadi sukacita ilahi yang sejati, sukacita akhir-akhir ini. Jika melihat hidup yang semakin sulit, itu tidaklah mengherankan. Tetapi itulah sebenarnya sebuah kekeliruan yang seringkali kita buat dalam mencari sukacita. Kita berpikir bahwa sukacita akan otomatis hadir jika hidup tanpa masalah. Jadi, bagimana kita bisa tetap merasakan sukacita meski di tengah kesulitan yang ada dalam hidp kita? Alkitab member jawabannya. Sukacita yang bisa membawa rasa gembira dalam hidup bukan tergantung dari kesulitan yang kita alami, melainkan bergantung kepada seberapa dalam kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, seberapa dekat kita berada dengan-Nya.
Apapun yang Anda hadapi hari-hari ini, hadapilah dengan semangat. Percayalah kepada janji-janji Tuhan, rasakan kebaikan dan penyertaan-Nya. Itu akan membuat hati kita tetapmemiliki sukacita yang sejati, dan dari sana kita kan mampu bersemangat dan tetap bersikap positif, penuh rasa antusias dalam menjalani hidup kita.