God
Is Impatient With Us
(Tuhan
tidak sabaran terhadap kita)
Bernarkah Tuhan tidak sabaran terhadap
kita?
Semua orang menginginkan segala hal bersifat instan:
makan makanan yang cepat saji, ingin berhasil secara instan, ingin memperoleh
kekayaan secara instan, ingin mendapatkan jodoh secara instan, semuanya ingin
serba instan. Ketidak sabaran memang menjadi
sifat alamiah dari manusia.
Pola pemikiran yang serba instan ini pula juga yang
membentuk pemikiran bahwa Tuhan pun kini tidak sabaran terhadap kita (God is
impatient with us). Penderitaan, permasalahan dan kesengsaraan yang terjadi
melanda manusia secara tiba-tiba acapkali dianggap sebagai hukuman dan bukti
bahwa Tuhan tidak sabaran terhadap kita. Namun, benarkah Tuhan tidak sabaran
terhadap kita?
TuhanYesus: teladan utama dalam hal
kesabaran
Rasul Petrus, mendesak orang-orang Kristen untuk
mengingat salah satu karakter Tuhan yang luar biasa yaitu kesabaran-Nya. “Tuhan
tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai
kelalaian, tetapi Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan
supaya semua orang berbalik dan bertobat… Anggaplah kesabaran Tuhan kita
sebagai kesempatan bagimu untuk memperoleh selamat, seperti juga Paulus,
saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang
dikaruniakan kepadanya. “(2 Petrus 3:9 dan 15).
Menurut kamus, kesabaran adalah kekuatan dalam
menjalani masalah dan penderitaan tanpa mengeluh; kemampuan menghadapi masalah
dengan tenang. Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal kesabaran. Terhadap
orang-orang yang mengejek, meludahi, menganiyaya, bahkan menyalibkan Dia, Yesus
tetap sabar dan berdoa. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa
yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34a).
Mitos keliru: Tuhan tidak sabaran
terhadap kita
Adanya persoalan dalam kehidupan manusia merupakan
bukti bahawa Tuhan tidak sabar terhadap manusia, merupakan suatu mitos yang
keliru. Tuhan adalah pribadi yang memahami keterbatasan manusia dan tidak
membalas dosa-dosa manusia setimpal dengan dosa mereka.
“Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar
dan berlimpah kasih. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita,
dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi
setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas
orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian
dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Mazmur 103:8-12)
Hidup dalam anugrah kesabaran-Nya
1. Memohon
pengampunan Tuhan bila selama ini kita telah menyia-nyiakan kesabaran Tuhan.
Sekalipun kita tidak
akan kehilangan keselamatan dan status kita sebagai anak-anak Allah, namun
bukan berarti status ini membebaskan kita dari “disiplin ilahi”. Allah memang
panjang sabar, tapi Ia sekali-kali tidak akan membiarkan diri-Nya dipermainkan
umat-Nya.
Peringatan Paulus
adalah untuk mendorong kita sebagai
orang-orang yang telah ditebus-Nya, agar dapat hidup berpadanan dengan
setatus kita dan tidak lagi hidup menuruti keinginan daging. Jika kita telah
ditebus-Nya tapi masih bermain-main dengan dosa, maka sikap kita tersebut sama
artinya dengan mempermainkan Tuhan, yang telah memanggil kita menjadi umat-Nya.
2. Mengambil
keputusan untuk meninggalkan dosa-dosa.
Paulus memperingatkan
umat Tuhan bahwa ketika melakukan pelanggaran atau dosa, mereka tidak hanya
akan berurusan dengan dunia sekitar (seperti peraturan/hukum pemerintahan yang
berlaku pada waktu itu); tetapi lebih dari itu, mereka sedang berurusan dengan
Tuhan sendiri.
Mungkin kita dapat
mengelak dari tuntunan hukum/peraturan manusia, tetapi hal ini tidak mungkin terjadi
di hadapan Allah. Jangan mengira bahwa pelanggaran dan dosa yang kita lakukan
dapat kita sembunyikan dari hadapan Allah. Justru sebaliknya, ketika kita
berusaha menyembunyikannya, itu berarti kita sedang mempermaikan kesabaran dan
kasih Tuhan dan menganggap-Nya tidak mengetahui perbuatan kita. Orang yang
bersikap demikian akan menuai apa yang telah di taburnya.
sumber: Renungan GKPB Bandung