Kamis, 05 April 2012

HIKMAH DIBALIK NAIKNYA HARGA MINYAK



Selama ini harga BBM masih ‘terjangkau’ karena disubsidi oleh pemerintah. Artinya bukan karena harganya murah. Penduduk di negri lain sudah terbiasa membayar harga yang mahal untuk pemakaian bahan bakar, karena tidak mendapat subsidi dari anggaran belanja negaranya. Sekarang rakyat Indonesia sudah harus membuka mata bahwa ‘periode subsidi’ akan segera menjadi sejarah. Karena dengan terus memberi subsidi dari anggaran belanja Negara, maka usaha pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di bidang lain terhalang. Padahal Indonesia perlu memperbaiki infrastruktur, meningkatkan mutu pendidikan bahkan perangkat keamanan di tengah semakin maraknya aksi terorisme internasional. Artinya kita sudah harus siap-siap jika harga BBM dan listrik masih akan naik lagi.
Memang semacam buah simalakama bagi pemerintah. Menaikan harga BBM membuat rakyat semakin menderita, tetapi kalalu tidak menaikan harga BBM, pemerintah tidak kuat menanggung biaya subsidi dan akhirnya negara bisa bangkrut.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak rakyat Indonesia untuk menghemat energy. Lampu-lampu jalan mulai diatur, agak sore baru dihidupkan dan lebih cepat dimatikan di pagi hari. Suhu pendingin udara di kantor-kantor pemerintah di kurangi supaya pemakaian listrik berkurang, dengan demikian PLN bisa menghemat pemakaian BBM dalam memproduksi energy listrik. Masih banyak lagi langkah-langkah yang lain yang sedang disosialisasikan. Bahkan walikota Solo mengajurkan agar pegawai negri di Solo menggunakan sepeda setiap hari Jumat. Lucu rasanya, tetapi itu bukan ide yang jelek. Apalagi kalau kita melihat dampak lebih jauh dari gagasan seperti itu. Bisa-bisa kalau sudah ‘keasyikan’ pakai sepeda pada hari jumat, bisa keterusan setiap hari kerja. Siapa takut?
Dengan keadaan seperti ini kita diingatkan dan diajak untuk memikirkan kembali prioritas di dalam hidup kita. Put frist thing frist. Utamakan yang paling kita butuhkan lebih dahulu. Dengan mengikuti himbauan hemat energy, kita telah membantu program pemerintah sekaligus membantu diri kita. Membantu kita dalam persiapan dalam menghadapi masa yang sukar di akhir zaman. Membantu kita mengikuti pola hidup Yesus yang sederhana. Membantu kita untuk menghidupkan roh penyangkalan diri. Membantu kita untuk mengurangi dan akhirnya meninggalkan gaya hidup kota besar yang cenderung menghambat persiapan kita untuk bertemu Yesus. Itulah yang seharusnya menjadi prioritas di dalam hidup kita. Dalam hidup yang akan semakin menyesakan ini, barangkali Tuhan juga menggunakan ini sebagai ‘kesempatan di dalam kesempitan’ supaya kita lebih berserah kepada-Nya. Pikiran positif mengatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah seperti blessings in disguise bagi umat Tuhan dalam persiapan menanti kedatangan-Nya.