Selama ini harga BBM masih ‘terjangkau’ karena disubsidi oleh
pemerintah. Artinya bukan karena harganya murah. Penduduk di negri lain sudah
terbiasa membayar harga yang mahal untuk pemakaian bahan bakar, karena tidak mendapat
subsidi dari anggaran belanja negaranya. Sekarang rakyat Indonesia sudah harus
membuka mata bahwa ‘periode subsidi’ akan segera menjadi sejarah. Karena dengan
terus memberi subsidi dari anggaran belanja Negara, maka usaha pemerintah untuk
melaksanakan pembangunan di bidang lain terhalang. Padahal Indonesia perlu
memperbaiki infrastruktur, meningkatkan mutu pendidikan bahkan perangkat
keamanan di tengah semakin maraknya aksi terorisme internasional. Artinya kita
sudah harus siap-siap jika harga BBM dan listrik masih akan naik lagi.
Memang semacam buah simalakama bagi pemerintah. Menaikan
harga BBM membuat rakyat semakin menderita, tetapi kalalu tidak menaikan harga
BBM, pemerintah tidak kuat menanggung biaya subsidi dan akhirnya negara bisa
bangkrut.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak rakyat Indonesia
untuk menghemat energy. Lampu-lampu jalan mulai diatur, agak sore baru
dihidupkan dan lebih cepat dimatikan di pagi hari. Suhu pendingin udara di
kantor-kantor pemerintah di kurangi supaya pemakaian listrik berkurang, dengan
demikian PLN bisa menghemat pemakaian BBM dalam memproduksi energy listrik.
Masih banyak lagi langkah-langkah yang lain yang sedang disosialisasikan.
Bahkan walikota Solo mengajurkan agar pegawai negri di Solo menggunakan sepeda
setiap hari Jumat. Lucu rasanya, tetapi itu bukan ide yang jelek. Apalagi kalau
kita melihat dampak lebih jauh dari gagasan seperti itu. Bisa-bisa kalau sudah
‘keasyikan’ pakai sepeda pada hari jumat, bisa keterusan setiap hari kerja.
Siapa takut?
Dengan keadaan seperti ini kita diingatkan dan diajak untuk
memikirkan kembali prioritas di dalam hidup kita. Put frist thing frist.
Utamakan yang paling kita butuhkan lebih dahulu. Dengan mengikuti himbauan
hemat energy, kita telah membantu program pemerintah sekaligus membantu diri
kita. Membantu kita dalam persiapan dalam menghadapi masa yang sukar di akhir
zaman. Membantu kita mengikuti pola hidup Yesus yang sederhana. Membantu kita
untuk menghidupkan roh penyangkalan diri. Membantu kita untuk mengurangi dan
akhirnya meninggalkan gaya hidup kota besar yang cenderung menghambat persiapan
kita untuk bertemu Yesus. Itulah yang seharusnya menjadi prioritas di dalam
hidup kita. Dalam hidup yang akan semakin menyesakan ini, barangkali Tuhan juga
menggunakan ini sebagai ‘kesempatan di dalam kesempitan’ supaya kita lebih
berserah kepada-Nya. Pikiran positif mengatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah
seperti blessings in disguise bagi umat Tuhan dalam persiapan menanti
kedatangan-Nya.