God
Is Against Us
(Tuhan
Memusuhi Kita)
Benarkah Tuhan memusuhi
kita?
Penderitaan yang ada
seringkali menjadi alasan bahwa Tuhan sedang menghukum dan memusuhi manusia.
Benarkah demikian? Seorang penginjil India, Sundar Singh, menulis tentang
kebakaran hutan di pegunungan Himalaya yang ia saksikan ketika sedang melakukan
perjalanan.
Saat banyak orang
berusaha memadamkan api, ada sekelompok orang yang memandangi sebuah pohon yang
dahan-dahannya mulai dijalari api. Seekor induk burung dengan panik terbang
berputar-putar di atas pohon. Induk burung itu mencicit kebingungan,
seakan-akan mencari pertolongan bagi anak-anaknya yang masih di dalam sarang.
Ketika sarang mulai
terbakar, induk burung itu tidak terbang menjauh. Sebaliknya, ia justru menukik
ke bawah dan melindungi anak-anaknya dengan sayapnya. Dalam sekejap, ia
berserta anak-anaknya hangus menjadi abu. Lalu Singh berkata kepada orang-orang
itu, “Kita baru saja melihat hal yang luar biasa.
Allah menciptakan
burung yang memiliki kasih dan pengabdian begitu besar sehingga rela memberikan
nyawanya untuk melindungi anak-anaknya … kasih seperti itulah yang membuat-Nya
turun dari surga dan menjadi manusia. Kasih itu juga membuat-nya rela mati
sengsara demi kita semua.”
Allah mengasihi Manusia
“Ia (Allah), yang tidak
menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua,
bagimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita
bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)
Ayat ini menjadi suatu
bukti betapa Allah mengasihi kita. Jika Putera-Nya yang tunggal rela Dia
berikan bagi kita, apalagi hal-hal lain yang menjadi kebutuhan kita pasti
disediakan-Nya. Pemahaman ini penting bagi kita mengingat kini banyak pelbagai
mitos yang keliru tentang Tuhan yang mengakibatkan manusia beranggapan bahwa
dirinya lebih bijak dari Tuhan.
Mitos-mitos tersebut
salah satunya adalah: Tuhan yang bersikap memusuhi manusia. Penderitaan dan
kesulitan hidup yang manusia alami seringkali menjadi alasan utama bahwa Tuhan
memusuhi dan sengaja membiarkan manusia dalam penderitaan.
Mitos keliru: Allah
memusuhi manusia
Memahami bahwa
pandangan adanya persoalan dalam kehidupan mereka merupakan bukti bahwa Tuhan
memusuhi diri mereka merupakan suatu mitos yang keliru. Pandangan ini akan
membuat manusia lebih mengandalkan kekuatan dirinya sendiri dan memilih
bersikap tidak mempercayai Tuhan.
Kita memahami berbagai
penyebab dari penderitaan manusia, antara lain: keberdosaan manusia dan
kelalaian manusia itu sendiri. Ingatlah bahwa melalui penderitaan yang dialami
manusia selalu ada maksud Tuhan bahwa: Tuhan sedang memurnikan iman umat-Nya,
mengokohkan iman umat-Nya. Penderitaan hanya salah satu cara bagimana Tuhan
menyatakan kemuliaan-Nya.
Roma 5:8 mengatakan,
“Akan tetapi Allah menunjukan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah
mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Betapa dalam kasih Allah kepada
anak-anak-Nya. Walaupun terkadang kita tidak setia, Dia tetap setia. Kasih
inilah yang menjadi dasar pemeliharaan Tuhan bagi umat-Nya. Tidak pernah Ia meninggalkan
perbuatan tangan-Nya bagi kita, apalagi memusuhi kita!
Langkah bijak melewati
kesukaran
1.
Memohon pengampunan Tuhan bila
telah bersikap tidak percaya akan kebaikan Tuhan di tengah kesukaran.
Ketika
dasar-dasar kehidupan kita terguncang, seringkali kita kewalahan.
Apapun
penyebabnya, peganglah bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
(Roma
8:28).
Percayalah
bahwa Dia akan membawa kita melewati goncangan sebesar apapun. Ingatlah bahwa
setiap rasa sakit yang kita rasakan, Yesus pun merasakannya. Kita tidak sendiri
Yesus, sekalipun Dia Tuhan, Dia juga saudara sulung kita, dan “dalam segala hal
Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya” (Ibrani 2:17).
Dia
secara sukarela mati di kayu salib untuk kita semua, hal itu karena Ia
mengasihi kita lebih daripada yang lainnya. Ia merasakan kesedihan dan luka
yang kita alami. Mari rendahkan hati kita dan bertobat.
2.
Menyerahkan diri ke dalam
pembentukan dan pembelaan Tuhan.
Billy
Graham berkata to receive Christ cost nothing, to follow Christ cost
something but to serve Christ cost everything. Waktu kita memutuskan untuk
mengikuti Kristus, Allah mulai memproses
kita. Yesus berkata: Barangsiapa yang tidak mau memikul salibnya, menyangkal
dirinya, dia tidak layak bagi-Ku.
Anggaplah
sebagai suatu kebahagiaan, apabila Anda jatuh ke dalam berbagai pencobaan,
sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Biarlah
ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh
dan tak kekurangan sesuatu apa pun.
sumber: Renungan GKPB bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar